Mengenal khilafah

MENGENAL KHILAFAH

Salah satu keberhasilan negara-negara penjajah setelah mereka menguasai dan menguras kekayaan negeri-negeri muslim adalah menghapus pemahaman umat tentang tatanan kehidupan Islam, kemudian menggantinya dengan tatanan kehidupan sekular. Di antara tatanan hidup Islam yang pertama kali mereka hapus dari benak umat adalah tentang sistem pemerintahan Islam.

Setelah kekalahan Khilafah Utsmaniyah (Eropa menyebutnya Ottoman Empire) di perang dunia I dan konspirasi agen penjajah di Turki menjadikan khilafah Islam akhirnya dibubarkan pada tanggal 3 Maret 1924 M atau 28 Rajab 1342 H, yang dalam majalah Time disebut “Abolition of the Caliphate”. Meski umat Islam dengan para ulama dari timur tengah, India, Indonesia dan negeri muslim lainnya berupaya menegakkan kembali khilafah melalui berbagai kongres dan pembentukan komite-komite, namun upaya tersebut selalu berhasil digagalkan oleh para penjajah melalui agen-agennya.

Maka telah lebih dari 85 tahun alias satu generasi umat Islam tidak hidup dalam sistem pemerintahan Islam. Tidak mengherankan jika anak cucu umat Islam saat ini tidak lagi mengenal apa itu Daulah Islam, apa itu Khilafah Islam. Bahkan sekadar menyebut kata “khilafah” atau “khalifah” saja mungkin kelu, masih sulit membedakannya dengan “khilafiah” apalagi “khofifah”. Ditambah lagi dengan ungkapan-ungkapan para agen penjajah maupun mereka yang anti kebangkitan Islam dengan mengatakan bahwa perjuangan mengembalikan khilafah adalah mimpi, mustahil, dan utopis. Semakin jauhlah umat ini dari mengenal apa itu Khilafah Islam, dan makin sempurna pula tugas dan kerja dari para penjajah di negeri-negeri muslim.

Tulisan berikut tidak dalam kapasitas membahas secara rinci struktur negara khilafah namun hanya memberikan gambaran secara umum tentang Khilafah Islam sebagai sistem pemerintahan yang khas dan unik yang diwariskan Baginda Nabi SAW, serta perbedaannya dengan sistem maupun bentuk ketatanegaraan yang lain.

Khilafah dan khalifah
Khalifah secara bahasa dapat diartikan penguasa, pemimpin, dapat juga diartikan pengganti. Khilafah didefinisikan sebagai kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Orang yang memimpinnya disebut khalifah, dapat juga disebut imam, amirul mukminin, atau sultan. Misalnya ketika khalifahnya adalah Abu Bakar RA beliau dikenal dengan sebutan khalifatu ar-rosulillah (penggantinya Rasulullah SAW), ketika khalifah Umar Ibn Khathab RA beliau disebut amirul mukminin (pemimpinnya orang beriman), dan ketika khalifah Ali bin Abu Thalib KW beliau disebut imam Ali.

Khilafah merupakan kewajiban dan janji dari Allah SWT dan Rasul-Nya
Sistem pemerintahan yang difardhukan Allah SWT adalah khilafah. Di dalam sistem khilafah, seorang khalifah diangkat melalui baiat umat Islam berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya untuk memerintah sesuai dengan wahyu yang Allah SWT turunkan. Di dalam Al-Quran, Allah SWT Berfirman:

“Karena itu, putuskanlah perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu” [TQS Al-Maidah (5):48]

Dari ayat tersebut terdapat kewajiban untuk menerapkan hukum Islam dalam berbagai perkara. Dengan kaidah ma la yatimu al-wajib ila bihi fahuwa al-wajib (tidak sempurnanya sebuah kewajiban karena sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib) maka menegakkan kembali khilafah menjadi wajib. Karena syarat dapat diterapkan hukum adalah adanya institusi (negara) maka keberadaan negara yang dapat menerapkan hukum Islam menjadi wajib pula. Dan konsep negara atau sistem pemerintahan satu-satunya yang dapat menerapkan hukum Islam secara total (kaffah) hanyalah negara khilafah.

Demikian juga di dalam Sunnah, Nabi SAW bersabda :

“Dulu bani Israel diurus dan dipelihara oleh para nabi. Setiap kali nabi meninggal, nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku dan akan ada para khalifah, yang jumlahnya banyak.”. Para sahabat bertanya “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi SAW bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama, yang pertama saja dan berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa saja yang mereka urus [HR Bukhari dan Muslim]

Di samping mendirikannya merupakan kewajiban, berdirinya khilafah juga merupakan janji dari Allah SWT dan Rasul SAW yang akan diberikan kepada umat Islam. Sebagaimana Firman Allah SWT di dalam Al-Quran:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa (istikhlaf) dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [TQS An Nuur (24):55]

Juga Rasulullah SAW di dalam sabdanya:

“Di tengah-tengah kalian terdapat masa kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan yang zalim yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan diktator yang menyengsarakan, yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Selanjutnya akan muncul kembali masa kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian.“ Setelah itu Beliau diam. [HR Ahmad]

Khilafah berbeda dengan bentuk pemerintahan lain yang ada di dunia saat ini.
Sistem pemerintahan Islam (khilafah) berbeda dengan seluruh bentuk pemerintahan yang dikenal di seluruh dunia; baik dari segi asas yang mendasarinya; dari segi pemikiran, pemahaman, maqayis (standar), dan hukum-hukumnya untuk mengatur berbagai urusan; dari segi konstitusi undang-undang yang dikeluarkannya; ataupun dari segi bentuknya yang mencerminkan Daulah Islam, sekaligus yang membedakannya dari semua bentuk pemerintahan yang ada di dunia ini.

Khilafah bukan sistem kerajaan. Dari aspek yang paling mendasar yaitu kedaulatan dan kekuasaan maka khilafah sangat berbeda dengan sistem kerajaan. Dalam sistem kerajaan, yang memiliki kedaulatan (kewenangan membuat undang-undang) adalah raja. Dengan akal, pertimbangan, dan hawa nafsunya seorang raja kemudian membuat undang-undang dan hukum yang akan diterapkan atas rakyatnya. Oleh karenanya raja tidak akan pernah “salah” dan tidak akan tersentuh hukum meski ketika dia nyata melakukan kezaliman, hukum hanya untuk rakyat yang melanggar sabda raja. Dalam hal kekuasaan, maka yang menjadi raja adalah yang berasal dari keturunannya (sistem putera mahkota). Rakyat setuju atau tidak setuju, tetap bahwa yang menjadi raja adalah putera mahkota. Sangat berbeda kekuasaan, khilafah diangkat oleh umat melalui proses baiat dengan keridhaan. Calon khalifah yang muncul berdasarkan penunjukan, pencalonan sendiri, maupun cara yang lain baru akan sah menjadi khalifah ketika telah mendapatkan baiat dari umat. Baiat merupakan metode pengangkatan seseorang menjadi khalifah. Dalam hal kedaulatan, khalifah diangkat bukan untuk membuat aturan atau hukum berdasarkan hawa nafsunya melainkan hanya menerapkan hukum yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul SAW (syariat Islam). Oleh karena itu khalifah bisa saja salah dan bisa dihukum yaitu ketika dia nyata-nyata menyimpang dari ketentuan syariat Islam.

Khilafah bukan sistem kekaisaran. Dari aspek kedaulatan dan kekuasaan maka sistem kekaisaran sama dengan sistem kerajaan sehingga otomatis juga sangat berbeda dengan khilafah. Berbeda dengan kerajaan, dalam sistem kekaisaran dilakukan pembedaan pemerintahan di antara suku-suku dan bangsa di wilayah kaisar yaitu dengan memberikan keistimewaan kepada pemerintah pusat (kekaisaran) baik dalam hal pemerintahan, harta, maupun perekonomian. Negeri atau wilayah taklukan hanya akan menjadi “sapi perah” bagi negeri (pusat) kekaisaran. Dalam hal ini sistem khilafah sangat berbeda. Dalam negara khilafah tidak terdapat pembedaan antara wilayah awal dengan wilayah yang sebelumnya ditaklukan. Ketika suatu negeri telah bergabung ke dalam khilafah maka mereka otomatis menyatu, menjadi satu kesatuan dengan tidak ada beda atau keistimewaan antara satu dengan lainnya. Perlakuan bagi rakyat juga sama yaitu sebagai warga negara, baik dia muslim ataupun non-muslim, baik dia berkulit putih, merah ataupun hitam. Dalam kehidupan pribadi boleh didasarkan pada agama dan keyakinan masing-masing, namun dalam kehidupan umum seperti ekonomi, politik, hukum, atau pergaulan maka diberlakukan aturan yang sama yaitu syariat Islam bagi seluruh warga negara. Dalam khilafah semua ras, suku, dan bangsa menyatu. Bangsa Arab, India, Afrika, Indonesia, maupun Eropa pernah menyatu dalam satu kesatuan negara khilafah.

Khilafah bukan sistem federasi. Dalam sistem federasi, wilayah-wilayah negara terpisah satu sama lain dengan memiliki kemerdekaan (otonomi) sendiri, dan hanya dipersatukan dalam masalah pemerintahan (hukum) yang bersifat umum. Sebuah wilayah atau propinsi yang pemasukannya kecil maka akan menjadi propinsi yang miskin, dan sebaliknya. Berbeda dengan sistem pemerintahan Islam, khilafah merupakan negara satu kesatuan. Satu kesatuan dalam pemerintahan, hukum, keamanan, maupun keuangan. Keuangan seluruh wilayah khilafah dianggap satu kesatuan dan APBN-nya juga satu, yang dibelanjakan untuk kemaslahatan seluruh rakyat tanpa memandang propinsinya.

Khilafah bukan sistem republik. Sistem republik pertama kali muncul di Eropa sebagai reaksi praktis (perlawanan) terhadap penindasan sistem monarkhi (kerajaan dan kekaisaran). Dari aspek yang paling mendasar yaitu kedaulatan dan kekuasaan maka sistem republik berbeda dengan sistem kerajaan maupun kekaisaran. Dalam sistem republik, terjadi pengalihan wewenang raja dan kaisar, sehingga kedaulatan dan kekuasaan dialihkan ke tangan rakyat, yang biasa disebut dengan demokrasi. Rakyat-lah yang berhak mengangkat pemimpin dan membuat aturan (hukum) yang akan diterapkan oleh pemimpin terpilih. Dari sisi kedaulatan maka baik sistem kerajaan, kekaisaran maupun republik hakikatnya adalah sama yaitu sama-sama menempatkan manusia sebagai sumber hukum. Hanya dalam sistem kerajaan dan kekaisaran pembuat hukumnya adalah raja dan kaisar, sementara dalam sistem republik pembuat hukumnya adalah rakyat (atau wakil rakyat). Dalam sistem khilafah, kedaulatan berada di tangan syara’ (Allah SWT). Khalifah dalam hal ini bukan sebagai pembuat hukum tetapi hanya sebatas menerapkan hukum. Sumber hukum sudah ada yaitu al-Quran, al-Hadits, Ijma’ sahabat, dan qiyas. Aturan dan hukum hanya tinggal digali dari sumber hukum dan setelah itu oleh khalifah aturan dan hukum tersebut diterapkan.

Khilafah bukan sistem teokrasi. Dalam sistem teokrasi, aturan yang diterapkan adalah aturan Tuhan yaitu dari aturan agama tertentu. Dari sini muncul kesan adanya kemiripan dengan sistem khilafah. Namun dari salah satu aspek yang paling mendasar yaitu kekuasaan maka khilafah sangat berbeda dengan sistem teokrasi. Dalam sistem teokrasi kekuasaan dianggap “takdir” atau penunjukkan Tuhan. Sehingga pemimpinnya menganggap diri sebagai wakil Tuhan, menjadi manusia suci, terbebas dari salah maupun dosa. Sangat berbeda dengan sistem khilafah, karena khalifah diangkat oleh umat melalui bai’at. Khalifah juga bukan manusia suci yang bebas dari kesalahan dan dosa. Khalifah bisa dikoreksi dan diprotes oleh umat jika kebijakannya menyimpang dari ketentuan syariat. Khalifah juga bisa salah dan bisa dihukum -yang dalam struktur khilafah fungsi ini dilakukan oleh mahkamah madzalim- yaitu ketika khalifah menyimpang dari ketentuan syariat Islam.

Khilafah memiliki struktur negara yang berbeda dengan yang lain meski ada kemiripan.
Struktur negara khilafah diambil (ditetapkan) dari struktur negara yang ditegakkan oleh Rasulullah SAW di Madinah setelah Beliau hijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islam disana. Struktur negara khilafah adalah struktur yang telah dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin setelah Rasulullah SAW wafat.

Dengan penelaahan yang mendalam terhadap nash-nash terkait maka struktur negara khilafah dalam pemerintahan dan administrasi secara umum terdiri dari: (1) Khilafah, (2) Para Mu’awin at-Tafwidh, (3) Wuzara’ at-Tanfidz, (4) Para Wali, (5) Amirul Jihad, (6) Keamanan dalam negeri, (7) Urusan luar negeri, (8) Industri, (9) Peradilan, (10) Mashalih an-Nas (kemaslahatan umum), (11) Baitul Mal, (12) Lembaga Informasi, dan (13) Majelis umat.

Inilah gambaran singkat mengenai khilafah, sistem pemerintahan yang khas dan unik, sebuah pemerintahan yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebuah sistem pemerintahan yang difardhukan Allah SWT dan diwariskan oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Tentu bagi yang mengaku umat Muhammad SAW sistem inilah yang harus diperjuangkan. Diperjuangkan untuk dapat berdiri kembali sebagaimana yang telah Allah SWT dan Rasulullah SAW janjikan.

Rekomendasi: untuk mengenal lebih dalam dan rinci tentang sistem pemerintahan khas Islam ini pembaca dapat membaca buku “struktur negara khilafah (pemerintahan & administrasi)” yang dikeluarkan Hizbut Tahrir (2005) HTI Press. Dan membandingkannya dengan buku-buku lain dengan tema bahasan yang sama.

Responses

  1. Assalamualikum wr wb…masyaa Allah…ystads trimakasih penejlasannya…luar biasa..mudah dimngerti tadss… Lanjytkan perjuangan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: